RSAS, SEGERA PUNYA CMU

Pembangunan gedung Central Medical Unit (CMU) terus dipacu mengingat kebutuhan serta kegiatan-kegiatan pelayanan kesehatan untuk masyarakat yang kian meningkat.

CMU yang belum rampung ini merupakan salah satu fasilitas yang nantinya akan memfasilitasi pelayanan operasi, instalasi rawat darurat dan pelayanan penunjang medic lainnya.
Selain itu CMU nantinya digunakan untuk mengcover kegiatan-kegiatan pelayanan yang bersifat emergensi serta memperbaiki pelayanan dari beberapa fasilitas yang masih kurang efektif misalnya untuk ruang operasi yang hanya empat kamar sehingga pelaksanaan pelayana operasi bagi pasien kadang harus menunggu ruang kosong.
Hal ini tentu saja sangat tidak efisien dan tidak representatif bagi kegiatan bedah yang frekuensinya mencapai 20 pasien per harinya. Sementara RSAS sebenarnya sudah mempunyai Sembilan dokter spesialis yang tentu saja mesti memiliki ruang dan fasilitas yang sesuai dengan tugas keprofesionalannya.
Begitu pula untuk kegiatan penunjang medic lainnya, seperti ruang persalinan dan ruang perawatan intensif yang masih menggunakan ruang rawat inap yang tentu saja akan berpengaruh pada daya tampung pasien rawat inap. Sehingga tidak mengherankan jika pada saat pasien membludak, banyak yang menempati gang dan selasar dalam ruang rawat inap.
Ruang instalasi rawat daruratpun masih menggunakan ruang poliklinik yang kapasitasnya terbatas, sehingga hal ini sangat berpengaruh pada pelayanan emergensi instalasi tersebut.
Melihat keadaan tersebut BP-RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe mengupayakan semaksimal mungkin untuk merealisasikan pembangunan CMU. CV. Taufik Raya sendiri yang dipercayakan melaksanakan kegiatan lanjutan tersebut sesuai hasil seleksi tender telah menerima surat perintah untuk segera mulai merampungkan gedung yang sangat penting ini.
Dengan harapan gedung CMU tersebut segera terealisasi sehingga semua pelayanan medic dapat lebih optimal diberikan kepada masyarakat.
“Mudah-mudahan pembangunan gedung ini bisa sesuai dengan yang direncanakan sehingga bisa langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat” ungkap Rafid Pakai, SE, Kepala Sub Bagian Perencanaan. (Eka)

Jumat, 04 Juli 2008 di 03.20 , 0 Comments

TINGKATKAN PELAYANAN PAVILIUN BARU SIAP DIGUNAKAN

Rumah Sakit Aloei Saboe kembali melakukan gebrakan ditengah berbagai hujatan akan pelayanannya. Gedung asrama perawat lantai satu sebanyak lima ruangan yang selama ini tidak termanfaatkan telah disulap menjadi ruangan VIP yang siap menampung pasien rawat inap. Rehabilitasi gedung ini dilaksanakan secara swakelola oleh Badan Pengelola RSAS.
Fasilitas VIP atau Paviliun ini diharapkan dapat dapat sedikt mengurangi permasalahan kekurangan ruang perawatan, akibat jumlah pasien membludak. Dan selasa (8/1) lalu, Medi Botutihe selaku Walikota Gorontalo meresmikan penggunaan ruangan pavilion tersebut.
Kepala Badan Pengelola RSUD Aloei Saboe, Nurinda Rahim mengungkapkan “jumlah antrian pasien yang ingin menggunakan ruangan VIP sangat panjang, sementara ruangan VIP yang ada di rumah sakit ini sangat minim, sehingga dengan bertambahnya fasilitas ruangan ini diharapkan sedikitnya dapat mengurangi jumlah antrian yang ada” tuturnya.
Sementara itu, Walikota Medi Botutihe mengungkapkan bahwa melonjaknya jumlah pasien yang ingin dirawat di ruang VIP, seharusnya menandakan tingkat ekonomi masyarakat Gorontalo semakin meningkat tetapi tidak demikian yang terjadi di lapangan, banyak pasien yang dirawat di ruang VIP ketika akan keluar justru memperlihatkan kartu miskin” ungkapnya. “Hal seperti inilah yang kadang menjadi masalah” tambahnya.
Namun langkah ini merupakan terobosan terbaik RSAS yang dinilai mampu membaca situasi konsumen masyarakat pengguna jasa Gorontalo akan pelayanan dan fasilitas rumah sakit yang modern dan professional.

Kamis, 03 April 2008 di 05.15 , 0 Comments

MEMBACA PELUANG RSAS NAIK KELAS DARI TIPE C KE RUMAH SAKIT TIPE B NON KEPENDIDIKAN

Tahun 1926 silam Rumah Sakit Aloei Saboe telah dimanfaatkan dengan nama Rumah Sakit Umum Gorontalo. Perjalanan panjang penuh perjuangan kemudian mengantarkan Rumah Sakit ini sebagai Rumah Sakit Kelas C pada tahun 1979.
Seiring dengan perkembangan zaman kebutuhan kesehatan masyarakatpun semakin meningkat. Tak ditanya lagi Gorontalo sebagai salah satu Provinsi yang laju perkembangannya sangat cepat, dengan setumpuk aktivitas kehidupan masyarakatnya tentu saja menuntut kehadiran sebuah pusat layanan kesehatan masyarakat yang modern dengan pelayanan yang profesional diharapkan ada di Gorontalo. Kota yang perkembangannya cukup pesat tentu saja akan berdampak bagi masyarakatnya. Gaya hidup masyarakatpun yang mulai menapaki jenjang sedikit lebih maju mengharapkan kesejahteraan akan menjamin kesehatan mereka. Rumah Sakit Aloei Saboe merupakan satu-satunya rumah sakit terbesar di Gorontalo yang menjadi tumpuan seluruh masyarakat Gorontalo dan beberapa daerah yang berada diluar Provinsi Gorontalo. Sehingga untuk memberikan pelayanan kesehatan yang optimal, PEMDA Tingkat II Kotamadya Gorontalo mengusulkan peningkatan kelas Rumah Sakit Umum Prof. Dr. H. Aloei Saboe dari kelas C ke kelas B Non Kependidikan sejak tahun 2005 silam. Rencana akan dinaikkannya kelas rumah sakit ini memacu pihak Badan Pengelola Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. H. Aloei Saboe untuk terus berbenah dalam rangka memenuhi sejumlah persyaratan-persyaratan yang diajukan pemerintah pusat.
Keseriusan pihak Badan Pengelola Rumah Sakit Aloei Saboe akan perubahan status rumah sakit ke tipe yang lebih baik akan dilihat dengan upaya Badan Pengelola terus meningkatkan sumber dayanya. Baik itu sumber daya manusia maupun dalam segi sarana dan prasarana. Untuk memenuhi fasilitas dokter spesialis pihak Badan Pengelola telah menyekolahkan 14 tenaga dokter umum untuk menjadi dokter spesialis ke Perguruan Tinggi Sam Ratulangi Manado dan Universitas Hasanuddin dan Universitas Indonesia. Dengan tersedianya dokter spesialis tersebut diharapkan dapat memberikan pelayanan yang memuaskan kepada masyarakat yang kemudian akan menjadi pertimbangan pemerintah pusat, layak tidaknya rumah sakit ini beralih kelas dari Tipe C ke Tipe B Non Pendidikan. Badan Pengelola Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. H. Aloei Saboe telah berusaha dengan semaksimal mungkin, dukungan dari semua pihak terutama masyarakat Gorontalo sangatlah diharapkan.

di 05.12 , 0 Comments

DARI KUNJUNGAN TIM DEPKES RI, LAYAKKAH RSAS NAIK STATUS?

Kamis (17/10) Tim dari Departemen Kesehatan RI tiba di Rumah Sakit Aloei Saboe dalam rangka kunjungan dinas, visitasi peningkatan kelas Rumah Sakit Aloei Saboe dari Tipe C ke Tipe B Non Pendidikan. Pada kesempatan itu dr. Hj. NUrinda Rahim, MSc selaku Kepala Badan Pengelola RSAS yang menyambut langsung kedatangan tim tersebut di RSAS. Dalam kesempatan tersebut, Nurinda terlebih dahulu mempresentasekan gambaran umum RSAS dan semua yang berkaitan dengan pelayanan, tenaga medis dan fasilitas yang ada di RSAS di hadapan Tim Visitase. Pihak Badan Pengelola sangat berharap pengalihan kelas Rumah Sakit ini dapat terealisasi secepat mungkin demi meningkatkan mutu pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat.
Dari Informasi yang berhasil dihimpun oleh crew Inflamas, Tim Visitase memastikan perubahan RSAS akan menjadi pertimbangan tersendiri bagi pemerintah pusat, mengingat RSAS merupakan rumah sakit terbesar yang ada di Provinsi Gorontalo yang tentu saja menjadi tumpuan masyarakat Gorontalo pada umumnya dan masyarakat sekitar Gorontalo. Sehingga peningkatan kelas rumah sakit dirasa layak diperuntukkan bagi Rumah Sakit Aloei Saboe untuk memenuhi tuntutan masyarakat tersebut.
Di tempat yang sama, Tim Visitase yang diketuai oleh dr. Abdul Rival tersebut mengungkapkan bahwa kedatangan Tim Depkes tersebut hanya sebatas menilai kelayakan. “Keputusan layak atau tidaknya rumah sakit beralih kelas masih menunggu keputusan akhir dari tim. Kendati demikian Abdul Rival mempresentasekan peluang perubahan status RSAS persen. Namun kami sangat salut dengan ketanggapan RSAS dalam peningkatan tenaga medis dan perawatnya, terbukti dengan adanya pengiriman sejumlah tenaga dokter umum untuk menjadi dokter spesialis ke beberapa universitas”. Ungkapnya.
Kunjungan tersebut dilanjutkan dengan pemantauan langsung Tim Visitase ke sejumlah ruangan yang ada di Rumah Sakit Aloei Saboe selain memantau beberapa fasilitas alat kesehatan yang tersedia.

di 05.09 , 0 Comments

ANUGERAH RUMAH SAKIT SAYANG IBU BUKTI RSAS BEKERJA

Kritikan adalah hal biasa bagi Rumah Sakit Aloei Saboe (RSAS). Namun ditengah cercaan tersebut RSAS tak tinggal diam. Saling menuding, menyalahkan, menydutkan, tak akan memberi hasil yang kita inginkan. Bekerja dan berbuat dengan tekad yang bulat demi kemaslahatan orang banyak dan ketulusan dalam pelayanan adalah prioritas utama RSAS.
Hal tersebut terbukti dengan adanya penghargaan tertinggi dari Presiden RI, kategori Rumah Sakit Sayang Ibu Dan Anak, yang diserahkan langsung oleh Presiden RI di Istana Negara 18 Desember lalu. Menurut Samsudin Hanipa, SE sekretaris Badan Pengelola RSAS, pemberian penghargaan tersebut sebelumnya telah melalui beberapa proses penilaian yang dilakukan oleh kementrian Negara Pemberdayaan Perempuan RI.
Masih menurut Samsudin, pada kesempatan itu Prof. Dr. Meutia Hatta Swasono selaku Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan memaparkan bahwa seharusnya mulai saat ini kaum ibu harus merubah cara pandangnya. Bahwasanya tugas seorang ibu bukan semata-mata hanya di dapur saja, tetapi bagaimana menjadi seorang ibu yang mampu bekerjasama dengan suami dalam memanajemen persoalan rumah tangga secara bersama-sama terutama masalah kesehatan dan pendidikan anak-anak karena kesejahteraan bangsa dan negara dimulai dari lingkungan terkecil yaitu keluarga. Penyerahan penghargaan tersebut diterima langsung oleh Sekretaris Badan Pengelola RSAS, Samsudin Hanipa, SE mewakili Dr. Nurinda Rahim, MSc selaku Kepala Badan Pengelola RSAS. Dr. Nurinda yang berhasil ditemui oleh crew Inflamas menuturka, “cercaan maupun kritikan yang terus datang, merupakan cambukan buat kami, sehingga apapun yang divoniskan ke RSAS tidak akan menyurutkan semangat kami untuk terus meningkatkan mutu pelayanan” ungkapnya. (Eka)

di 05.02 , 0 Comments

TANDA KEHORMATAN SATYA LENCANA PENGABDIAN 30 TAHUN

30 tahun mengabdi Ratna Hala Pakaya, bidan senior ini meyelesaikan pendidikan Diploma III kebidanannya di Manado, Sulawesi Utara. Ratna Hala Pakaya mengawali karirnya sebagai Pelaksana Kebidanan Puskesmas di Kecamatan Popayato yang sekarang ini merupakan wilayah perbatasan Provinsi Gorontalo dengan Provinsi Sulawesi Tengah. Setahun lebih ditugaskan di daerah terpencil tersebut meninggalkan banyak kenangan tersendiri baginya. Pada masa itu tepatnya tahun 1975 silam sarana transportasi di daerah tersebut sangatlah minim. Kondisi jalan yang rusak ditambah dengan tidak tersedianya alat transportasi tentu saja berdampak bagi pelayanan kesehatan masyarakat di daerah tersebut. Akses darat yang dapat digunakan saat itu satu-satunya adalah gerobak yang menggunakan kekuatan hewan peliharaan masyarakat seperti sapid an kuda. Memang pada saat itu ada sebuah mobil bantuan untuk Kecamatan Popayato, namun pemanfaatannya hanya dapat menjangkau empat desa terdekat dari kota kecamatan.
Untuk dapat menjangkau Kota Gorontalo, akses laut dengan menggunakan kapal motor dan speedboat merupakan satu-satunya alternative. Pasien yang harus mendapatkan pelayanan lebih dan harus dirujuk ke Rumah Sakit Gorontalo pun mau tidak mau harus menggunakan transportasi laut tersebut. Namun kondisi cuaca yang tidak memungkinkan kadang harus membuat pasien berlapang dada menerima pelayanan seadanya dari puskesmas.
Bdan yang dikaruniai seorang putra dan dua orang putri ini selanjutnya dipindahkan beberapa kali ke sejumlah puskesmas-puskesmas yang ada di wilayah Gorontalo. Diantaranya adalah Puskesmas Tapa, Puskesmas Mongolato, dan Puskesmas Wongkaditi secara berturut-turut mendapatkan predikat sebagai Puskesmas Teladan sejak tahun 1986.
Periode berikutnya selama dua tahun, Ratna Hala Pakaya juga mengabdikan dirinya di Rumah Bersalin Sitti Khadijah. Hingga kemudian ditempatkan di Rumah Sakit Aloei Saboe tahun 1993 hingga saat ini. Perjalanan panjang yang telah digelutinya tersebut membuahkan beberapa penghargaan yang memang pantas diperuntukkan kepadanya. Diantaranya pada tahun 1983 sebagai Pengelola KB Teladan, Predikat Bidan Teladan tingkat kabupaten tahun 1989. Dan baru-baru ini memperoleh tanda jasa Satya Lencana 30 tahun mengabdi dari Negara.
Selain menekuni dunianya sebagai seorang bidan, Ratna Hala Pakaya juga menjadi dosen pembimbing di sejumlah akademi keperawatan dan akademi kebidanan yang ada di Provinsi Gorontalo. Dalam hal ini, Ratna Hala selalu meningkatkan dan menekankan mahasiswa bimbingannya untuk tidak hanya menguasai ilmu akademiknya semata tetapi juga perlu menanamkan nilai tanggung jawab, kedisiplinan, kejujuran, dan keikhlasan kepada jiwa masing-masing mahasiswa tersebut sehingga dikemudian hari dapat mengabdikan diri dengan penuh kemanusiaan kepada masyarakat.
Ratna Hala sendiri merasa kecewa dengan keadaan lapangan yang ia lihat saat ini. Terutama di pusat-pusat kesehatan masyarakat yang ia rasa kini tak lagi dekat dengan masyarakat. Kurangnya pengayoman dari pusat-pusat kesehatan masyarakat tersebut dinilainya sebagai penyebab meningkatnya resiko kematian pada ibu.
Prinsip untuk memuaskan pasien adalah senantiasa dipegang teguh olehnya. Sehingga ia memilih 4M, yakni Memeriksa, Menolong, Merawat, Membimbing dan menyuluh untuk diterapkannya dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya di tempat tugas, karena diamanapun kita berada menolong orang lain sudah merupakan naluri kita sebagai manusia yang berketuhanan.
“Kesadaran dari masing-masing individu, baik itu perawat, bidan, dokter, atau pegawai di lingkungan Rumah Sakit Aloei Saboe sepertinya harus lebih menjadi perhatian masing-masing. Dari kesadaran tersebut maka akan hidup rasa tanggung jawab atas pekerjaan yang diembannya. Sehingga dengan begitu kita siap mempertanggungjawabkan semua tindak tanduk kita pada diri, masyarakat, negara, dan tentunya kepada Allah” ungkap Ratna Hala, diakhir perbincangannya dengan crue Inflamas.

BIODATA
Nama            :    Ratna Hala Pakaya
NIP            :    140 073 056
Tempat Tanggal Lahir     :    Gorontalo, 16 Februari 1956
Pangkat / Gol. Ruang    :    Penata Tingkat I / III d
Jabatan Terakhir    :    Bidan Penyelia
Instansi            :    BP-RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Gorontalo
Jenis Kelamin        :    Perempuan
Agama            :    Islam
Alamat            :    Kel. Bulotadaa timur Kec. Kota Utara
                Kota Gorontalo
Pendidikan Terakhir    :    Diploma III kebidanan

di 03.35 , 0 Comments

TANDA KEHORMATAN SATYA LENCANA PENGABDIAN 30 TAHUN

Abdi Negara Yang Setia Bertugas
Banyak pilihan pekerjaan yang dapat menjadi tujuan cita-cita kita. Tetapi pegawai negeri sipil merupakan salah satu profesi yang selalu menjadi pilihan sebagian besar orang-orang. Tak ada salahnya dan sah-sah saja dengan pilihan tersebut. Dan untuk menjadi seorang abdi negara haruslah dibarengi dengan jiwa besar dalam mengemban tugas yang tentunya memerlukan tanggung jawab yang besar dari setiap individu-individu yang memilih menjadi pamong pada pemerintahan.
Negara sangat berterima kasih kepada abdi negara yang dengan kerja kerasnya telah mengemban tugas Negara selama bertahun-tahun. Sehingga beberapa diantara mereka layak mendapatkan penghargaan dari negara, berupa tanda kehormatan Satya Lencana 30 tahun. Berikut diantara mereka yang berkesempatan mendapatkan tanda penghormatan tersebut.
Purna Tugas Bukan Halangan, Mengabdi Untuk Kemanusiaan
Dr. Tawil Boneputra, Sp. B dari jauh tampak pasien berjubelan mengisi kursi tunggu di koridor depan ruangan OKB (Operasi Kamar Bedah) Rumah Sakit Aloei Saboe. Cat putih dinding rumah sakit ini terlihat sangat kontras dengan tirai penutup jendelanya yang berwarna violet muda. Begitu masuk ke ruangan ini tergambar jelas sebuah suasana nyaman, bersih, dan hening. Seperti itulah suasana yang ditangkap oleh crew Inflamas yang mencoba mendapatkan informasi dari Dr. Tawil Boneputra, Sp. B disela-sela kesibukannya di Rumah Sakit Aloei Saboe.
Dokter alumni Fakultas Kedokteran, Universitas Hasanudin Makassar ini mengawali karirnya sebagai dokter umum di Puskesmas Bone, tanah kelahirannya.
Menuntut ilmu yang berguna adalah suatu hal yang dicintai Allah, senada dengan pepatah tuntutlah ilmu semenjak dalam buaian hingga ke liang lahat. Sepertinya dokter yang satu ini pun tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk terus menambah ilmu kedokterannya.
Naluri untuk terus mengembangkan potensi yang ada ditambah motivasi diri dan dukungan dari keluarga, dokter senior ini pun memutuskan untuk melanjutkan studinya. Spesialis Bedah merupakan pilihan mantap yang akan dilakoninya. Universitas Hasanudin Makassar kembali menjadi saksi perjalanan studinya. Setelah menyelesaikan studi spesialis bedahnya, Maret tahun 1982 ia menginjakkan kakinya di Gorontalo. Selanjutnya ditempatkan di Rumah Sakit Umum Gorontalo yang sekarang ini lebih kita kenal sebagai Rumah Sakit Aloei Saboe Kota Gorontalo. Memilih spesialis bedah sebagai pilihan studinya ternyata mempunyai alasan tersendiri. “Menjadi seorang dokter bedah, memiliki kepuasan tersendiri bagi saya. Setiap kali menyelesaikan sebuah tindakan operasi kepada pasien, saya sangat bersyukur sedikitnya dapat meringankan penderitaan mereka” ungkapnya. “Satunya lagi… profesi seorang dokter bedah tidak dapat diwakilkan kepada yang lainnya sehingga ilmu yang saya dapatkan betul-betul terimplementasi langsung kepada sasarannya” tambahnya lagi. Profesi dokter memang adalah profesi yang mulia, profesi yang tidak dapat dipisahkan dengan masalah kemanusiaan. Mengabdi lebih dari 30 tahun ternyata tidaklah sia-sia, negara menyematkan tanda kehormatan satya lencana sebagai tanda penghargaan atas sumbangsihnya kepada negara. Namun hal tersebut bukanlah akhir dari perjuangannya, sekalipun telah purna bakti ia masih tetap bersedia membantu sesama, terkait profesinya sebagai dokter spesialis bedah.
Dr. Tawil Boneputra, Sp. B mungkin merupakan salah satu dari sekian banyak orang yang sukses dengan profesinya. Perjalanan panjangnya sebagai seorang dokter yang tentu saja tidak lepas dari berbagai macam aral, tak mematahkan semangatnya terus berbakti untuk kemanusiaan.

BIODATA
Nama                            :    Dr. Tawil Boneputra, Sp. B
Nip                               :    140 069 111
Tempat Tanggal Lahir    :    Bone, 10 November 1947
Pangkat/Gol. Ruang       :    Pembina Utama Madya / IV D
Jabatan Terakhir            :    Kepala UPF Bedah
Instansi                          :    BP-RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Gorontalo
Jenis Kelamin                 :    Laki-laki
Agama                           :    Islam
Alamat                           :    Jl. Imam Bonjol Kel. Limba B Kec. Kota Selatan
Pendidikan Terakhir       :    Dokter Spesialis Bedah
Tanda Kehormatan        :    Satya Lencana (30 tahun)  

di 03.34 , 0 Comments